parlementaria
LIFESTYLE

Lima Seniman Muda Menggali Identitas di Ambang Batas Kota dan Kabupaten Bandung

Maman

Maman

Minggu, 14 Desember 2025 | 23:55 WIB

Lima Seniman Muda Menggali Identitas di Ambang Batas Kota dan Kabupaten Bandung
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Angkatan 2022, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Foto :Tangkapan Layar-RI


BANDUNG,(RI)-Lima Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Angkatan 2022, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) siap membuka ruang dialog mendalam melalui pameran kolektif mereka, “KELINDAN GEMA: Satu Bandung Dua Detak.


” Pameran yang diselenggarakan sebagai bagian dari Bandung Rhizome Project ini mengajak publik untuk merenungkan dialektika antara modernitas urban dan kearifan rural yang membentuk identitas kompleks masyarakat Bandung Raya.


Pameran akan berlangsung di Tjap Sahabat Gallery (Jalan Cibadak No. 168A, Kota Bandung.) mulai 12 hingga 15 Desember 2025, dengan waktu kunjungan dari pukul 11.00 hingga 17.00 WIB.


“Kelindan Gema” diangkat sebagai respons visual terhadap tema besar “Contrast in Harmony”. Tema ini secara puitis membedah dua realitas yang berbeda. KELINDAN melambangkan denyut nadi Kota Bandung yang serba cepat, dinamis, dan padat, sebuah simbol modernitas urban. GEMA mewakili suara tradisi, kearifan lokal, dan ritme kehidupan yang lebih tenang di Kabupaten Bandung.


Lima seniman mahasiswa (UPI) yang terlibat dalam pameran ini adalah, Muhammad Syahrizal Akbar, Najma Malfika Kheirdina, Muhammad Dhani Ismail, Naura Nurani, dan Reigi Rippana. Karya-karya yang ditampilkan dala pameran ini beragam visual mulai dari 2D seperti Lukis, Seni Grafis hingga karya 3D patung keramik.


Menurut Najm MK, Kurator sekaligus salah satu seniman, pameran ini melihat perbatasan geografis bukan sekadar garis, melainkan ambang batas psikologis tempat identitas diuji dan dibentuk ulang.


“Perpindahan penduduk, yang didorong oleh kebutuhan ekonomi dan pendidikan, seringkali memicu pergulatan identitas. Melalui karya-karya ini, kami menunjukkan bahwa kontras antara Kota dan Kabupaten bukanlah konflik yang merusak, melainkan sebuah dialektika kreatif yang melahirkan identitas unik,” jelas Najma.


Acara pembukaan pameran dimeriahkan dengan sambutan dari berbagai pihak, termasuk Ketua Pelaksana, Dosen Pembimbing, dan Kurator. Sorotan utama datang dari pihak eksternal, yaitu pemilik Tjap Sahabat Gallery, Mei Suling, yang memberikan pandangan kritis dan membangun.


Dalam sambutannya, Kak Mei Suling tidak hanya menyambut kehadiran seniman muda di ruangannya, tetapi juga melontarkan seruan penting bagi ekosistem seni rupa Bandung.


“Kegiatan pameran mahasiswa seni rupa di Bandung harus lebih diperdalam komunikasi serta korelasinya dengan pihak-pihak galeri di luar lingkup kampus,” ujar Kak Mei.Ia menekankan perlunya jembatan yang lebih kuat antara kreativitas akademik di kampus dengan realitas pasar dan ruang publik di galeri.


Pesan ini disambut baik sebagai dorongan bagi seniman muda untuk tidak hanya berkarya, tetapi juga membangun jaringan profesional sejak dini.

Publik, akademisi, dan praktisi seni rupa diundang untuk menghadiri pameran ini dan berpartisipasi dalam dialog tentang bagaimana kontras dapat menciptakan harmoni sejati.

(MMN)

Bagikan Berita Ini