parlementaria
LIFESTYLE

Pendidikan Lingkungan Pasca Deforestasi Sumatera

Redaksi

Jumat, 05 Desember 2025 | 22:04 WIB

Pendidikan Lingkungan Pasca Deforestasi Sumatera
Warga melintasi jembatan sementara di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kab. Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.Foto Tangkapan Layar-RI

Rakyat-Indonesia.id,-Indonesia.id,-Bencana alam yang terjadi beruntun di Sumatera melanda secara hampir bersamaan di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh bukan sekadar peristiwa alam biasa.


Ini adalah alarm keras atau bahkan sirene panjang yang seharusnya membuat seluruh negeri terjaga. Dari longsor, banjir bandang, hingga meluapnya sungai, semuanya terjadi dalam hitungan hari. Lalu meninggalkan luka yang tak kecil bagi masyarakat.


Namun di tengah kepanikan dan rasa was-was warga. ada suara-suara pejabat yang terdengar terlalu datar. seolah semua ini "biasa saja".


Padahal masyarakat Sumatera merasakan sendiri bagaimana mencekamnya situasi itu. Bukan hanya mencekam di media sosial tapi mencekam secara nyata: ratusan meninggal dunia, rumah hanyut, jembatan putus, orang hilang, dan hidup yang terbalik dalam sekejap.


Tidak! Bencana ini tidak datang tiba-tiba. Alam kita sedang protes. Hutan yang dulunya menjadi benteng penahan air kini berubah menjadi lahan gundul karena deforestasi masif. 


Mengutip Kompas.com, Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, wilayah pulau Sumatera bagian utara telah kehilangan puluhan ribu hektare tutupan hutan dalam tiga dekade terakhir. Angka itu bukan sekadar statistik sebab itulah akar dari bencana hari ini.


Alam Indonesia sudah tidak baik-baik saja. Kita sedang berada dalam fase dimana bencana bukan lagi sesuatu yang jarang terjadi tetapi sesuatu yang mengintai setiap musim.


Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.


Ketika hujan turun sedikit lebih lebat, kita takut. Ketika sungai meluap beberapa sentimeter, kita was-was. Ketika tanah retak di tepi bukit, kita langsung berpikir: "Jangan-jangan...".


Di saat yang sama, pemerintah mengarahkan sekolah untuk mengajarkan kurikulum hijau. Sebuah ide baik. Sebenarnya memang sejak lama sekolah sudah menanamkan cinta alam lewat pelajaran, ekstrakurikuler, hingga kegiatan seperti bersih-bersih sekolah atau penanaman pohon di kawasan sekolah. Siswa kita sebenarnya sudah tumbuh dengan ajaran menjaga bumi.


Namun tidak sinkron ketika siswa diajarkan mencintai alam, sementara pejabat memberikan izin deforestasi tanpa kontrol ketat. Ada ketimpangan nilai saat generasi muda diajarkan peduli alam sementara sebagian pemegang kuasa justru membuka jalan bagi kerusakan. 

sumber:kompasiana.com



Bagikan Berita Ini