Logo BeritaKini
bolt Terkini
DAERAH

Dady Mulyadi SH:Dewan Pembina GKTMTB Selalu Siaga Menjaga Lahan Hak Warga

R.Robby Rahmat

Minggu, 31 Mei 2026 | 12:37 WIB

Dady Mulyadi SH:Dewan Pembina GKTMTB Selalu Siaga Menjaga Lahan Hak Warga
Foto:Tangkapan Layar-RI

Karawang,(RI) -Gabungan Kelompok Tani Mandiri Telukjambe Bersatu (GKTMTB) menegaskan bahwa hak kelola perhutanan sosial

yang telah diberikan negara melalui skema Izin Pemanfaatan Hutan.

 

Perhutanan Sosial (IPHPS) wajib mendapatkan perlindungan dan kepastian hukum.Struktur Kepengurusan Aktif Dewan Penasehat

organisasi ini dijabat oleh H. M. Sayegi ,Dewa Sena, S.Psi, sementara posisi Dewan Pembina diamanahkan kepada H. Dadi Mulyadi, S.H.

Untuk jajaran roda organisasi, posisi Ketua PLT dipegang oleh Sutarno, yang didampingi oleh Jaro selaku Sekretaris,

dan Efno Sunardi Sitanggang yang mengemban tugas sebagai Bendahara.


GKTMTB merupakan organisasi petani yang telah memperoleh legalitas resmi dari negara melalui SK IPHPS Nomor 5320/MENLHKPSKL/PKPS/PSL.0/6/2020 dengan luas areal sekitar 1.566 hektare untuk 783 Kepala Keluarga. Selanjutnya dilakukan penyesuaian luas melalui SK Nomor 3557/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/6/2020 menjadi sekitar 1.544,5 hektare.


Sejak memperoleh legalitas tersebut, anggota GKTMTB secara nyata telah melakukan pengelolaan kawasan sesuai mandat negara, meskipun sebagian areal belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena terdapat dugaan penguasaan dan garapan oleh pihak lain yang telah berlangsung sebelumnya.


Pada tahun 2023, GKTMTB juga telah mengajukan transformasi skema pengelolaan menuju Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKM), termasuk menyerahkan peta rinci areal kerja kepada Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL).


Namun dalam perkembangannya muncul dugaan berbagai kelompok lain yang mengklaim areal kerja yang sama meskipun dugaan kami tidak memiliki dasar legalitas berupa SK IPHPS maupun persetujuan perhutanan sosial sebagaimana dimiliki GKTMTB yang dahulu diketuai Bapak Antonius Sutejo.


Dalam proses penyelesaian konflik yang difasilitasi pemerintah, muncul usulan penyatuan seluruh kelompok ke dalam satu organisasi pengelola dan pembagian areal sekitar 1.500 hektare menjadi empat bagian.


Upaya penyelesaian konflik tenurial kawasan hutan di wilayah Telukjambe dan sekitarnya terus menunjukkan perkembangan positif melalui pendekatan dialog dan mediasi yang difasilitasi oleh berbagai instansi pemerintah.


Dalam kegiatan Pra Mediasi Penanganan Konflik yang dilaksanakan di Karawang, 11 Mei 2024 , hadir berbagai unsur pemerintah dan lembaga terkait, di antaranya Direktorat Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat Kementerian Kehutanan, Direktorat Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial, Direktorat Pengendalian Perhutanan Sosial, Direktorat Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial,Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Balai 

Perhutanan Sosial Bogor, Cabang Dinas Kehutanan Wilayah II Purwakarta, Kesbangpol Kabupaten Karawang, serta unsur pemerintah kecamatan dan pemerintah desa yang berada di wilayah terdampak. 


Kegiatan tersebut juga mendapatkan perhatian dari unsur keamanan dan pertahanan negara dengan hadirnya Komando Distrik Militer (Kodim) 0604/Karawang serta Tim Ketahanan Pangan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Wilayah Jawa Barat. Kehadiran berbagai instansi tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian konflik tenurial menjadi perhatian bersama demi menjaga stabilitas sosial, kepastian hukum, dan keberlanjutan program 

perhutanan sosial.

 

Dalam proses tersebut, Bapak Sutarno selaku Ketua Gabungan Kelompok Tani Mandiri Telukjambe Bersatu (GKTMTB) menunjukkan sikap terbuka dan kooperatif dengan menghadiri forum yang melibatkan berbagai pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, maupun organisasi masyarakat tani. Kehadiran dan partisipasi aktif GKTMTB dalam forum mediasi menjadi bukti komitmen untuk mengedepankan musyawarah, dialog, dan penyelesaian secara damai sesuai koridor hukum yang berlaku. 


Dari perspektif hukum, keikutsertaan GKTMTB dalam proses mediasi yang difasilitasi pemerintah menunjukkan adanya itikad baik (good faith) dalam mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Sikap menghadiri undangan resmi, menyampaikan pendapat dalam forum, serta membuka ruang komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan merupakan indikator bahwa organisasi tetap menghormati mekanisme penyelesaian sengketa 

yang diakui negara.


Kehadiran berbagai direktorat Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, aparat TNI, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan lembaga terkait lainnya juga memperlihatkan bahwa proses yang berlangsung bukanlah agenda sepihak, melainkan forum resmi yang melibatkan banyak pemangku kepentingan. Dalam konteks tersebut, partisipasi aktif Ketua GKTMTB menunjukkan bahwa organisasi tidak menutup diri terhadap proses penyelesaian 

yang difasilitasi pemerintah dan senantiasa membuka ruang dialog demi tercapainya solusi 

yang adil bagi seluruh pihak.


Melalui pendekatan musyawarah dan komunikasi yang konstruktif, diharapkan proses penyelesaian konflik tenurial dapat menghasilkan keputusan yang memberikan kepastian hukum, menjaga kondusivitas wilayah, serta melindungi kepentingan masyarakat yang selama ini menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian dan perhutanan sosial, dari hasil singkat Musyawarah, terbit BERITA ACARA Pada hari Senin, tanggal sebelas Mei tahun dua ribu dua puluh enam (11-05-2026), bertempat di Aula Kodim 0604/Karawang, telah dilaksanakan kegiatan Fasilitasi Penanganan Konflik Tenurial Kawasan Hutan pada Izin 

Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS) atas nama Gabungan Kelompok Tani Mandiri Telukjambe Bersatu (GKTMTB), Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Kegiatan ini dihadiri oleh para pihak terkait sebagaimana diatas dijelaskan.


Sementara PETA INDIKATIFPEMBAGIAN RENCANATRANSFORMASI IPHPS GABUNGAN KELOMPOK TANI MANDIRI TELUKJAMBE BERSATU (GKTMTB)


SK. 5320/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/10/2017 jo. SK 3557/ MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/6/2020 Keterangan Luas: LUAS : ± 2.115 HA

Catatan hukum: Kehadiran Bapak Sutarno dan Pengurus dalam forum yang dihadiri 


Kementerian Kehutanan, Dinas Kehutanan, Kesbangpol, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Kodim, dan Kopassus merupakan fakta yang dapat dijadikan indikator kuat bahwa GKTMTB memilih jalur dialog dan penyelesaian kelembagaan, bukan pendekatan konfrontatif.


Hal ini memperkuat posisi organisasi apabila di kemudian hari muncul tuduhan bahwa GKTMTB tidak kooperatif terhadap proses penyelesaian konflik. 

Terhadap hal tersebut, GKTMTB menyatakan menghormati seluruh upaya pemerintah dalam menciptakan penyelesaian konflik yang damai dan berkeadilan. Namun demikian, setiap kebijakan harus tetap berlandaskan hukum, kepastian tenurial, dan perlindungan terhadap hak masyarakat yang telah memperoleh legalitas resmi dari negara.


Pernyataan PLT Ketua Umum GKTMTB, PLT Ketua Umum GKTMTB, Bapak Sutarno, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya tidak pernah menolak penyelesaian konflik maupun akses masyarakat terhadap program perhutanan sosial."GKTMTB sejak awal selalu mendukung penyelesaian konflik secara musyawarah dan mengedepankan kepentingan masyarakat.


Namun kami juga memiliki kewajiban moral dan hukum untuk memperjuangkan hak 783 kepala keluarga yang telah memperoleh legalitas 

resmi dari negara melalui SK IPHPS," ujar Sutarno.Menurutnya, legalitas yang telah diterbitkan negara tidak boleh kehilangan makna hanya 

karena adanya dugaan klaim dari pihak-pihak yang tidak memiliki dasar legal formal yang sama.


"Negara telah melakukan proses panjang berupa verifikasi administrasi, verifikasi lapangan, penyusunan peta, hingga akhirnya menerbitkan SK kepada GKTMTB. Oleh karena itu, kepastian hukum terhadap pemegang SK harus dijaga dan dilindungi," tegasnya.


Sutarno juga menyampaikan bahwa hingga saat ini masih terdapat banyak anggota GKTMTB yang belum memperoleh hak garap secara penuh akibat adanya tumpang tindih penguasaan lahan di lapangan yang diduga dikuasi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, hinggadugaan terjadi diperjual belikan secara ilegal.


"Jangan sampai anggota yang selama ini menunggu realisasi haknya justru kembali 

kehilangan kesempatan karena adanya pengurangan luasan yang tidak mempertimbangkan 

kebutuhan riil penerima manfaat resmi," tambahnya.

Meski demikian, GKTMTB tetap membuka ruang dialog dan solusi konstruktif.

"Kami tidak menolak penyelesaian konflik. Kami tidak menolak program KHDPK. Kami 

juga tidak menolak pemberdayaan masyarakat lain. Tetapi penyelesaiannya harus 

menghormati legalitas yang telah diterbitkan negara dan tidak boleh menghilangkan hak 

anggota GKTMTB


Dewan Pembina dan Penasihat Hukum GKTMTB, Dadi Mulyadi, S.H., menjelaskan bahwa 

berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 4 Tahun 2023, 

tidak terdapat ketentuan yang memberikan dasar hukum untuk mengurangi hak kelola 

pemegang persetujuan perhutanan sosial secara sepihak.

"Permen LHK Nomor 4 Tahun 2023 mengatur tata kelola KHDPK, penyelesaian konflik, dan 

perluasan akses masyarakat. Namun tidak terdapat norma yang membenarkan pengurangan 

hak pemegang SK secara paksa ataupun penyamaan kedudukan antara pemegang legalitas 

resmi dengan kelompok yang tidak memiliki legalitas yang sama, dan perlu dipertegas bahwa 

tidak peenah ada SK lain yang diterbitkan, artinya patut dopertanyakan jika ada dugaan 

muncul kelompok-kelompok lain" jelas Dadi Mulyadi.

Menurutnya, prinsip utama perhutanan sosial adalah kepastian tenurial, perlindungan hak 

masyarakat, keadilan sosial, dan keberlanjutan pengelolaan kawasan.

"Apabila pemegang SK resmi masih harus berbagi secara paksa dengan pihak yang tidak 

memiliki legalitas, maka hal tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum serta 

melemahkan legitimasi keputusan negara itu sendiri," ujarnya.

Dadi juga menegaskan bahwa penyelesaian konflik tenurial seharusnya dilakukan melalui 

verifikasi subjek dan objek secara ketat, validasi penguasaan lapangan, serta penataan areal 

yang adil dan terukur.

"Apabila masih tersedia kawasan KHDPK lain yang belum teralokasi, maka negara memiliki 

alternatif penyelesaian tanpa harus mengurangi hak kelola GKTMTB yang telah sah. Prinsip 

perlindungan terhadap pemegang legalitas yang telah ada harus tetap menjadi prioritas," 

katanya.

Sikap Resmi GKTMTB

1. Mendukung penyelesaian konflik secara damai dan bermartabat.

2. Mendukung program KHDPK dan penguatan perhutanan sosial nasional.

3. Menolak penyamaan kedudukan hukum antara pemegang SK resmi dengan pihak 

yang tidak memiliki legalitas setara.

4. Menolak pengurangan hak kelola anggota GKTMTB tanpa dasar hukum yang jelas.

5. Mendorong verifikasi subjek dan objek secara menyeluruh sebelum dilakukan 

penataan kawasan.

6. Mendukung pemberian akses kepada kelompok lain melalui kawasan KHDPK yang 

masih tersedia.

7. Meminta pemerintah menjamin kepastian hukum bagi pemegang SK IPHPS yang 

telah diterbitkan negara.

GKTMTB meyakini bahwa penyelesaian konflik yang berkeadilan hanya dapat dicapai 

apabila legalitas, kepastian hukum, dan hak masyarakat penerima manfaat resmi tetap 

menjadi dasar utama dalam setiap pengambilan kebijakan.

Pernyataan Resmi Tim Hukum GKTMTB Bersatu, Tim Hukum GKTMTB Bersatu yang 

dipimpin langsung Oleh Bapak H. Dadi Mulyadi, S.H,. dan Bapak Deni, S,H,. S.Kom,. M.SC

menegaskan bahwa seluruh langkah yang ditempuh organisasi dalam menempuh hak


anggota dilakukan secara konstitusional, proporsional, dan sesuai dengan ketentuan 

hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tim Hukum GKTMTB Bersatu juga telah menyampaikan surat resmi kepada berbagai 

instansi dan pemangku kepentingan terkait, termasuk lembaga-lembaga negara yang memiliki 

kewenangan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan publik. Perkara ini saat ini telah 

menjadi perhatian dan masuk dalam agenda perlindungan hukum yang disampaikan kepada 

Komisi III DPR RI sebagai bagian dari upaya memastikan kepastian hukum dan perlindungan 

terhadap hak-hak masyarakat penerima manfaat Perhutanan Sosial.

“Kami menegaskan bahwa perjuangan GKTMTB tidak dilakukan melalui pendekatan 

konflik, melainkan melalui mekanisme hukum, administrasi pemerintahan, serta forum-forum 

resmi yang disediakan negara. Semua langkah kami tempuh sesuai kaidah hukum dan prinsip 

negara hukum sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945,” tegas Tim Hukum GKTMTB 

Bersatu.

Dasar Hukum yang Menjadi Landasan Perjuangan GKTMTB, Menurut Tim Hukum 

GKTMTB Bersatu, status kawasan yang dikelola GKTMTB tunduk pada dua rezim hukum 

utama, yaitu hukum kehutanan dan hukum agraria.

1. Rezim Hukum Kehutanan

Pertama, berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, seluruh 

kawasan hutan berada dalam penguasaan negara dan pemanfaatannya diberikan melalui izin 

yang sah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kedua, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 

P.39/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017 menjadi dasar hukum lahirnya skema IPHPS (Izin 

Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial) di wilayah kerja Perum Perhutani.

Ketiga, Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan 

memperkuat pelaksanaan Perhutanan Sosial di Pulau Jawa melalui skema Kawasan Hutan 

Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK).

“Dari seluruh regulasi tersebut, negara telah secara resmi memberikan akses kelola kepada 

masyarakat melalui mekanisme yang sah. Dalam konteks Telukjambe, legalitas tersebut 

diberikan kepada GKTMTB melalui SK IPHPS yang diterbitkan oleh Kementerian 

Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” jelas Tim Hukum.

2. Rezim Hukum Pertanahan (Agraria)

Tim Hukum menjelaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang 

Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), tanah yang masih berstatus kawasan hutan 

tunduk pada rezim hukum kehutanan.

Karena itu, SK IPHPS bukan merupakan hak milik atas tanah, melainkan hak akses keseluruhan.


Perlu dipahami bahwa pemegang SK IPHPS tidak sedang memperjuangkan sertifikat hak 

milik. Yang diperjuangkan adalah perlindungan terhadap hak akses kelola yang telah 

diberikan negara secara sah melalui mekanisme Perhutanan Sosial,” tegas Tim Hukum.

Karakteristik Hukum SK IPHPS GKTMTB, Tim Hukum GKTMTB Bersatu menjelaskan 

bahwa terdapat beberapa karakteristik hukum penting dari SK IPHPS yang dimiliki 

GKTMTB:

* GKTMTB merupakan pemegang izin resmi yang diberikan negara kepada 783 Kepala 

Keluarga.

* Lahan tetap berstatus kawasan hutan negara dan bukan tanah milik pribadi.

* Hak yang diberikan adalah hak akses kelola yang dilindungi hukum.

* Jangka waktu izin berlaku selama 35 tahun dan dapat diperpanjang sesuai hasil evaluasi.

* Luas areal kerja yang telah ditetapkan negara adalah sekitar 1.544,5 hektare setelah 

penyesuaian batas dan koordinat lapangan.

* Setiap anggota memperoleh akses pengelolaan sesuai ketentuan program Perhutanan Sosial.

* Hak kelola tersebut memperoleh perlindungan hukum sepanjang pemegang izin 

melaksanakan kewajiban sesuai peraturan yang berlaku.

Perlindungan Terhadap Pemegang Legalitas Resmi, Tim Hukum GKTMTB Bersatu 

menegaskan bahwa negara tidak boleh menciptakan ketidakpastian hukum terhadap 

pemegang legalitas resmi yang telah diterbitkan melalui proses verifikasi dan evaluasi yang 

panjang.

“Apabila kelompok yang telah memperoleh SK resmi dari negara diperlakukan sama dengan 

pihak yang tidak memiliki legalitas yang setara, maka hal tersebut berpotensi merusak asas 

kepastian hukum, asas keadilan, serta kepercayaan masyarakat terhadap program Perhutanan 

Sosial nasional,” ujar Tim Hukum.

Komitmen Penyelesaian Secara Damai dan Bermartabat, Meski demikian, GKTMTB tetap 

membuka ruang dialog dan penyelesaian konflik secara damai.

“GKTMTB tidak menolak penyelesaian konflik, tidak menolak program KHDPK, dan tidak 

menolak pemberdayaan masyarakat lainnya. Namun setiap solusi harus menghormati 

legalitas yang telah diterbitkan negara, melindungi hak 783 kepala keluarga penerima 

manfaat resmi, serta menjamin kepastian hukum bagi seluruh pihak.”

Tim Hukum GKTMTB Bersatu juga meminta seluruh pihak untuk menahan diri, 

menghindari tindakan yang dapat memperkeruh situasi, dan mengedepankan penyelesaian 

berdasarkan hukum, data, serta fakta lapangan yang objektif.

‘Hukum harus menjadi panglima. Kepastian hukum harus diberikan kepada masyarakat yang 

telah memperoleh legalitas resmi dari negara. Itulah prinsip yang sedang diperjuangkaan setiap masyarakat.

Bagikan Berita Ini